June 20, 2017

Mudik dengan Kapal Laut part 1

Tags

Sumber : mudikgratis.com
Mudik (mulih udik, pulang kampung) pernah diklaim sebagai fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Entah itu benar atau tidak, fenomena mudik melahirkan banyak cerita. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mudik saya dari pelabuhan ke pelabuhan, mungkin berisi sedikit tips dan penjelasan.

Ketika tiket pesawat sudah tidak terjangkau dompet, tahun ini saya mudik menggunakan kapal laut. Kapal lautnya pun milik negara, yah karena tiketnya lebih murah dibanding kapal swasta. Tiket ekonomi Nunukan-Pare Pare hanya Rp. 312.000, kalau kapal swasta sampai lima ratus ribuan. Sudah beberapa tahun terakhir PT Pelni menghapus tiket kelas eksekutif , Kelas 1 dan Kelas 2, semua tiketnya kelas ekonomi.

Pelayanan di kapal plat merah ini juga lumayan meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari pembatasan kapasitas, keramahan ABK, hingga kebersihan. Bahkan ada minimarket waralaba ternama di kapal itu. 

Sempat sangsi setelah tiket di kantor pelni sold out alias habis, saya mendapat tiket Jam 5 subuh dihari keberangkatan. Tiketnya pun tiket non-seat. Artinya, saya tidak punya ranjang atau bahasa populernya "tempat". Sekedar informasi, tempat dalam kapal adalah hal utama demi kenyamanan perjalanan selama dua hari. Tidak heran jika tempat ini diperjual-belikan oleh para calo. 

Jika ranjang-ranjang sudah penuh, biasanya para penumpang melantai beralaskan kain karung (karung yang di gunting hingga menyerupai lembaran kain). Kain karung ini dijual oleh penjual khusus dengan harga sepuluh ribuan. Saya memilih naik sendiri tanpa jasa calo karena yakin pasti ada tempat kosong dalam kapal, dimanapun itu. Apalagi pulangnya sendirian, saya pikir bisa tidur dimana saja. 

Hal lain yang perlu diperhatikan di kapal laut adalah keamanan. Sudah banyak kasus pencurian dan pencopetan di kapal. Seorang penumpang mengaku pernah kehilangan uang tunai sampai tiga jutaan ditambah perhiasan. Jangan heran mengapa mereka membawa uang tunai dan pehiasan, mereka ini adalah para perantau dari negara tetangga yang kebanyakan agak kabur dan sulit dengan transaksi perbankan. 

Walaupun tidak pernah membawa uang dan perhiasan sebanyak itu (hmm..karena memang tidak punya), saya sendiri pernah hampir kecopetan telepon genggam saat mengantri makan di pantri. Waktu itu sekitar tahun 2013. Untungnya  saya cepat sadar tapi tetap sulit melihat tangan siapa yang masuk ke kantong saya. 

Soal makanan, jangan harap menunya akan mengikuti selera kita. Saya pribadi lebih memilih belanja makanan di kantin ketimbang makanan yang disediakan, atau membawa perbekalan sebelum naik kapal. Semua tergantung selera dan isi dompet. 

Harga barang di atas kapal lumayan fantastis, bisa naik hingga 100 persen dari harga normal di darat. Sebagai gambaran, kopi sachet yang diseduh harganya sepuluh ribu rupiah, padahal di darat biasanya cuma lima ribu. Hampir semua minuman dingin diatas sepuluh ribuan harganya. 

Baca Juga

Selama perjalanan di atas kapal, saya mengisi waktu dengan banyak hal. Dari berbagi cerita, membaca buku elektronik, hingga menyelesaikan rubik 3 x 3. 

Fasilitas kapal yang bisa digunakan untuk mengisi waktu adalah bioskop mini. Saran saya sebaiknya anda mendengarkan baik-baik judul filem dan pemainnya, karena bisa jadi yang diputar adalah filem dewasa. Aktifitas keagamaan seperti shalat lima waktu, tarawih dan kebaktian bagi umat ktisten tetap dapat dilaksanakan diatas kapal. Awak kapal menyediakan ruangan untuk itu.

Berbicara tentang kamar mandi, di musim mudik seperti sekarang kadang menimbulkan bau menyengat. Untuk ke kamar mandi juga harus mengantri dengan penumpang lain. 

Jika saya kedatangan sifat malas, saya biasanya hanya mandi dua atau satu kali selama dua hari itu. Itupun saya mandinya di kamar mandi ABK yang lumayan lebih bersih (strategi menyusup).
Perjalanan dengan kapal laut selalu memberikan pengalaman baru. 

Komunikasi dengan penumpang lain membuka wawasan saya tentang hidup dan kehidupan. Disekitar kita, banyak cerita manusia yang tak terekam oleh sejarah dan media informasi. Suatu saat kisah-kisah itu akan saya tulis di blog ini. 

Untuk saat ini, mungkin ini dulu cerita yang bisa saya bagi seputar perjalanan menggunakan kapal laut. Semoga bisa membantu para pembaca dalam mempersiapkan perjalanan mudiknya. Terima kasih...

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon