September 09, 2020

5 Langkah Menyelesaikan Tugas Daring dari Guru

Pandemi Covid-19 memaksa perubahan pada aktivitas kita semua. Termasuk siswa yang harus belajar dari rumah. Belajar dari rumah adalah hal baru, siswa, bahkan orang tua kadangkala kebingungan. Kali ini kita akan membahas langkah-langkah sukses menyelesaikan tugas daring.


Berikut langkah-langkahnya :

1. Memperhatikan instruksi tugas

Langkah ini adalah langkah pertama yang harus kalian lakukan sebagai pelajar. Instruksi atau arahan guru sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu. Jangan sampai kalian hanya membaca sekilas sehingga salah menafsirkan. Salah menafsirkan akan membuat tugas kalian tidak sesuai keinginan guru kalian. Mintalah bantuan dari orang dewasa di sekitar kalian untuk memhami instruksi tugas tersebut. Kalian juga dapat bertanya kepada guru dengan bahasa yang santun.

2. Menelusuri informasi

Setelah kalian memahami instruksi tugas dari guru, kalian lanjutkan dengan menelusuri informasi. Informasi yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan tugas yang diberikan. Kalian dapat mencari informasi di buku atau internet. Mencari informasi di internet tentu saja di situs-situs terpercaya. Lebih baik mencari di situs yang direkomendasikan oleh guru kalian. Jika Tugas kalian berupa karya atau produk, sebaiknya mencari beberapa contoh karya atau produk. Temukanlah contoh produk terbaik untuk kalian jadikan referensi/rujukan.

3. Menyusun rencana

Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana. Menyusun Rencana yang dimaksud termasuk mengatur waktu penyelesaian tugas. Apalagi jika ada bahan-bahan lain yang harus disiapkan. Tentu kalian harus merencanakan waktu mencari atau membeli bahan itu. Rencanakanlah apa yang akan kalian buat atau tuliskan ditugas kalian.

4. Membuat tugas

Langkah inilah yang sangat mempengaruhi kesuksesan kalian belajar daring atau menyelesaikan tugas. Carilah tempat yang nyaman bagi kalian untuk mengerjakan tugas. Melakukan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Kerjakan tugas dengan teliti. Gunakan waktu dengan baik dalam membuat tugas ini. Jangan sampai kalian menunda-nunda menyelesaikan tugas. Menunda mengerjakan tugas akan membuat tugas kalian menumpuk, Kalian akan kewalahan sendiri.

5. Menyerahkan atau mengirim Tugas

Setelah tugas selesai, maka kalian harus mengirim tugas ke guru kalian. Pengiriman tugas dapat dilakukan melalui media yang disepakati dengan guru. Sebelum mengirim, pastikan kalian menulis identitas di tugas kalian. Jangan lupa menyertakan kalimat santun saat mengirimkan tugasnya.

Langkah-langkah tadi dapat dilakukan secara berurut untuk menyelesaikan tugas dari sekolah selama masa pembelajaran daring. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang belajar dari rumah. Tetap semangat.

September 05, 2020

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19


Perubahan cara belajar yang dipengaruhi pandemi Covid-19 menuntut guru untuk menyusun rencana pelaksaanaan pembelajaran yang beradaptasi dengan situasi saat ini. Penyusuna RPP mengacu pada prinsip-prinsip belajar dari rumah. Prinsip-prinsip belajar dari rumah (Sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020) sebagai berikut :

  1. Keselamatan dan kesehatan lahir batin siswa, guru/tutor Paket B, kepala sekolah dan seluruh warga sekolah menjadi pertimbangan utama.
  2. Memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum.
  3. Fokus pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi COVID-19
  4. Materi pembelajaran bersifat inklusif sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan peserta didik
  5. Aktivitas dan penugasan dapat bervariasi antar daerah, sekolah dan siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses terhadap fasilitas.
  6. Hasil belajar siswa diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru/tutor Paket B tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.
  7. Mengedepankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru/tutor Paket B dengan orangtuawali. 

Prinsip-prinsip ini kemudian mempengaruhi komponen-komponen RPP selama pandemi Covid -19. Hal-hal yang diperhatikan dalam penyusunan RPP selama pandemi Covid-19 oleh guru yaitu :
  • Disederhanakan menjadi tiga komponen, yaitu tujuan, kegiatan dan asesmen.
  • Tujuan pembelajaran diturunkan dari Kompetensi Dasar (KD) dan diuraikan menjadi kompetensi-kompetensi yang akan dicapai siswa. Kompetensi pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 dilaksanakan untuk memberikan pengalaman bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum. Bersifat inklusif, sesuai dengan usia siswa SMP, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan siswa.
  • Kegiatan pembelajaran diisi dengan aktivitas sesuai sintaks/langkah-langkah model pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang ditentukan. Memuat tiga komponen, yaitu pendahuluan, inti dan penutup.Kegiatan pembelajaran dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi COVID-19. Aktivitas dan penugasan dapat bevariasi antar daerah berdasarkan kearifan lokal dan kondisi masing- masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses fasilitas pembelajaran. Guru/tutor Paket B dapat membuat inovasi baru, mengadopsi/mengadaptasi model pembelajaran berbasis kearifan lokal yang dinilai paling sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing di saat pandemi COVID-19. Misalnya Sabilulungan Studysaster. Sabilulungan artinya seia-sekata atau saling tolong menolong. Dalam hal ini, kerjasama antara peserta didik, guru/tutor Paket B, sekolah, orangtua dan lingkungan. Istilah Studysaster diambil dari akronim Study dan Disaster yang dalam bahasa Indonesia berarti belajar dan bencana. Jadi Studysaster adalah belajar di masa bencana. Dengan demikian Sabilulungan Studysaster merupakan model pembelajaran new normal berlandaskan kerjasama yang sinergis pada masa pandemi COVID-19. Model pembelajaran Sabilulungan Studysaster menghasilkan produk berdasarkan minat bakat dan kemampuan peserta didik yang disesuaikan dengan lingkungan terdekat (berbasis kearifan lokal). Produk tersebut bisa berupa karya tulis, puisi, cerpen, video, foto, poster, komik dan lain-lain.
  • Asesmen yang dilakukan meliputi tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Hasil belajar siswa pada masa pandemi COVID-19 diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru/tutor Paket B tanpa diharuskan memberi skor/nilaikuantitatif. 

Contoh RPP Selama pandemi Covid-19 sebagai berikut :

Baca Juga



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMPN 1 Margahayu                                             Kelas/Semester : VII/1
Mata Pelajaran : Terintegrasi                                                          Tahun Pelajaran : 2020/2021
Materi   : Belajar dari COVID-19                                                     Alokasi : 4 x pertemuan

TUJUAN PEMBELAJARAN

Melalui Sabilulungan Studysaster siswa dapat menciptakan produk belajar dari COVID-19 yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungan secara mandiri dan bertanggung jawab.

KEGIATAN PEMBELAJARAN

1. Identification
Guru/tutor Paket B dan siswa membaca, mempelajari serta berdiskusi tentang pandemi COVID-19 melalui lembar kegiatan (luring)/on line (daring)/gabungan keduanya sesuai kondisi yang ada. Dari diskusi tersebut siswa dengan bimbingan guru/tutor Paket B mampu melakukan identifikasi risiko bencana kesehatan Covid-19 pada dirinya sendiri, maupun orang-orang di lingkungan sekitar.

2. Search
Siswa melihat contoh tugas pembelajaran tentang risiko bencana kesehatan Covid-19 di internet atau sumber lain yang relevan. Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan/menuliskan ide sehingga menjadi produk yang dapat mengedukasi orang lain tentang pandemi Covid-19. Produk tersebut bisa berupa karya tulis/puisi/cerpen/ video/ musik/foto/poster/komik dan atau lainnya. Dilanjutkan mencari referensi tentang langkah atau teknik pembuatan produk melalui internet (daring), buku (luring) maupun sumber lain yang relevan.

3. Plan
Setelah siswa melakukan proses mencari referensi, akan muncul ide/imajinasi awal untuk membuat konsep, pesan sosial, tema dan visual yang akan dituangkan dalam produk hasil pembelajaran. Ide tentang produk belajar dari COVID-19 yang masih abstrak tersebut kemudian divisualkan/dituliskan dalam bentuk sketsa kasar atau kerangka tulisan sebagai acuan dalam membuat produk pembelajaran. Siswa dapat memilih satu atau lebih produk sesuai dengan kemampuannya.

4. Create
Setelah menemukan ide/pesan dan rencana karya yang akan dikerjakan, maka siswa mulai memvisualkan/menuliskan rancangan tersebut dalam media yang ada di sekitarnya.

5. Share
Membagikan info tentang produk belajar dari COVID-19 yang dibuatnya kepada orang
lain melalui media konvensional (luring)/online (daring) atau gabungan keduanya,
sehingga dapat diketahui oleh masyarakat luas.

6. Practice
Mempraktikkan secara nyata, pesan sosial yang terdapat pada produk untuk dirinya sendiri dan orang di sekitarnya.

PENILAIAN
Guru/tutor Paket B memberi umpan balik dengan menilai produk secara kualitatif ditinjau dari aspek:
pengetahuan : Ide/konsep yang disampaikan pada karya tulis/puisi/cerpen/video/ musik/foto/poster/komik dan atau lainnya
keterampilan : Bentuk inovatif pada karya tulis/puisi/cerpen/video/musik/foto/ poster/komik/dan atau lainnya
sikap : Ketepatan waktu pembuatan pada karya tulis/puisi/cerpen/video/foto/musik/poster/komik dan atau lainnya

Demikianlah Postingan Mengenai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19.

Sumber : Pedoman Pembelajaran
Pada Masa Pandemi Covid-19
Di Sekolah Menengah Pertama (SMP)

September 04, 2020

Peran Guru Orangtua dan Siswa dalam Pembelajaran Daring


Hampir seluruh siswa mengalami pengaruh pandemi Covid 19. Penutupan sekolah terjadi hampir di setiap daerah. Keputusan menjaga jarak sangat penting demi keselamatan warga sekolah. Tentunya perlu pola-pola belajar yang sesuai dengan kondisi saat ini. Pembelajaran daring menjadi alternatif pilihan. Dalam pembelajaran daring, guru dibantu oleh orang tua dalam kegiatan pembelajaran.

Bagaimana peran guru, orang tua dan siswa dalam pembelajaran daring? 

Berikut peran guru orang tua dan siswa dalam pembelajaran daring :

Peran Guru



  • Membuat mekanisme untuk berkomunikasi dengan orang tua/wali dan siswa
  • Membuat RPP yang sesuai dengan minat dan kondisi siswa
  • Menghubungi orang tua untuk mendiskusikan rencana pembelajaran yang inklusif sesuai kondisi siswa
  • Memastikan proses pembelajaran berjalan dengan lancar melalui persiapan, refleksi, penjelasan materi dan tanya jawab
  • Bila tanpa tatap muka, guru/tutor Paket B mesti berkoordinasi dengan orang tua/wali untuk penugasan belajar
  • Mengumpulkan dan merekap tugas yang dikirim siswa dalam waktu yang telah disepakati
  • Muatan penugasan adalah pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi COVID-19. Selain itu, perlu dipastikan adanya konten rekreasional.

Baca Juga


Peran Orang Tua


  • Menyepakati cara untuk berkomunikasi dengan sekolah
  • Mendiskusikan rencana pembelajaran yang inklusif bersama guru/tutor Paket B sesuai kondisi siswa
  • Menyiapkan perangkat pembelajaran
  • Memastikan siswa siap mengikuti pembelajaran
  • Menyiapkan waktu untuk mendukung proses pembelajaran daring
  • Mendorong siswa agar aktif selama proses pembelajaran
  • Orang tua/wali memastikan anak mengisi lembar aktivitas sebagai bahan pemantauan belajar harian
  • Mengumpulkan foto lembar aktivitas dan penugasan setiap hari
  • Secara aktif berdiskusi dengan guru/tutor Paket B terkait tantangan dan kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran daring
  • Memastikan tempat dan fasilitas belajar nyaman

Peran Siswa



  • Menyiapkan perangkat pembelajaran (buku, alat tulis dan media lainnya)
  • Mengajak orang tua untuk mendukung proses pembelajaran
  • Menyiapkan tempat di rumah yang cukup nyaman untuk belajar
  • Memahami jadwal dan tujuan pembelajaran
  • Aktif dalam diskusi dengan guru/tutor Paket B
  • Menyelesaikan tugas dari guru/tutor Paket B, ajak diskusi orang tua
  • Mengumpulkan tugas dan foto pembelajaran (jika ada)
  • Menyampaikan kesulitan saat kegiatan belajar ke guru/tutor Paket B atau orang tua
  • Menuliskan rencana kegiatan sesudah belajar


Diharapkan ketiga pihak yang terkait dalam pembelajaran ini dapat berperan dengan aktif dan bekerja sama dengan baik.

Sumber : Pedoman Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19
Di Sekolah Menengah Pertama (SMP)

August 25, 2020

Morfologi Akar Batang dan Daun Tumbuhan Tingkat Tinggi Secara Umum

Sumber gambar : https://nationalgeographic.grid.id/

Tumbuhan tingkat tinggi terdiri dari akar, batang dan daun. Kita akan membahas morfologi umum akar batang dan daun.

Akar


Secara umum dikenal dua bentuk sistem perakaran pada tumbuhan, yakni:
1. Akar tunggang = radix primaria
Perkembangannya berasal dari lembaga akar

2. Akar serabut = radix adventitia
Perkembangannya tidak berasal dari lembaga akar, tapi bisa dari organ lain, seperti daun dan batang.
Sumber gambar : https://struktur.shareinspire.me/

Karena beberapa fungsi (seperti menyimpan makanan), akar bisa mengalami perubahan bentuk. Beberapa bentuk yang umum ditemukan adalah: berbentuk tombak (fusiformis), berbentuk gasing (napiformis).

Batang


Batang merupakan salah satu organ yang sangat penting pada tumbuhan, tempat melekat dan tumbuhnya organ lain. Batang mempunyai nodus (buku) tempat melekat organ lain seperti daun dan internodus (ruas) bagian yang terletak antara dua nodus.

Kondisi alami batang, tinggi yang bisa dicapai secara alami, masa dan bentuk hidup dikenal dengan habit tumbuhan. Ada 4 bentuk habit yang umum pada tumbuhan:

1. Herba : batang menggandung air
Sumber gambar : https://m.merdeka.com/

2. Semak : batang berkayu, tumbuhan berukuran sedang, percabangan dekat dengan tanah.
Sumber gambar : https://www.dekoruma.com/

3. Pohon : batang berkayu, tumbuhan berukuran besar, percabangan jauh dari tanah
Sumber gambar : https://www.cnnindonesia.com/

4. Climber/memanjat : mempunyai batang kecil dan panjang dengan cabang tersebar. Biasanya mempunyai organ khusus yang berkembang yang digunakan untuk memanjat.
Sumber gambar : https://kebunmahasiswa.wordpress.com/


Daun


Hampir semua tumbuhan memiliki daun. Bentuk daun dipengaruhi oleh struktur tulang daun.
Secara umum kita menggolongkan bentuk tulang daun sebagai berikut :

1. Daun menyirip
Sumber gambar : https://ebook.banyuwangikab.go.id/

2. Daun menjari

Sumber gambar : https://ebook.banyuwangikab.go.id/

3. Daun melengkung

Sumber gambar : https://ebook.banyuwangikab.go.id/

4. Daun sejajar

Sumber gambar : https://ebook.banyuwangikab.go.id/

Demikian Pembahasan Morfologi Akar Batang dan Daun Tumbuhan Tingkat Tinggi Secara Umum. Semoga Bermanfaat.

August 04, 2020

Konversi satuan Besaran Panjang Massa dan Waktu

Sumber gambar : https://serviceacjogja.pro

Konversi satuan sangat penting diketahui apabila kita berurusan dengan besaran. Pengetahuan tentang konversi satuan sangat berguna dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya saat ingin memasak dengan resep tertentu, satuan yang digunakan di resep tersebut belum tentu sama dengan satuan alat ukur kita. Tentu sangat perlu pengetahuan tentang konversi satuan.

Berikut ini akan dibahas tiga macam konversi satuan dari besaran yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Besaran panjang

Besaran panjang satuan bakunya adalah meter. Meter dapat dikonversi menjadi beberapa satuan yakni, kilometer (km), hektometer (hm), dekameter (dam), desimeter (dm), centimeter (cm), milimeter (mm), inci (in.), kaki (ft) dan mil (mi).
1 m = 0,1 dam
1 m = 0,01 hm
1 m = 0,001 km
1 m = 10 dm
1 m = 100 cm
1 m = 1000 mm
ilustrasi gambar dapat dilihat dibawah ini :
Sumber : https://bukuizhar.wordpress.com/

untuk konversi lainnya dapat dilihat sebagai berikut :
1 meter = 39,3 inci = 3,281 ft = 6,214 x 10 -4  mil
1 inci = 2,540 cm
1 kaki = 30,48 cm
1 mil (darat) = 1609 m = 1,609 km = 5280 ft
1 mil laut = 1852 m = 1,852 km

Besaran Massa

Besaran Massa satuan bakunya adalah Kilogram (Kg). Dapat dikonversi kedalam beberapa satuan lain sebagai berikut :
Perhatikan gambar berikut :
sumber gambar : https://bukuizhar.wordpress.com/

Konversi satuan lainnya antara lain :
1 ons = 28,35 gram
1 pon = 453,6 gram = 0,4536 kg
1 ton = 1000 kg = 2000 pon
1 shortton (di amerika) = 907,2 kg
1 longton (di inggris) = 1016 kg

Besaran Waktu

Besaran untuk satuan waktu lebih sederhana dibanding dua besaran diatas. perhatikan gambar berikut :
Sumber gambar : https://rumusrumus.com/

Demikianlah postingan tentang beberapa besaran umum dalam kehidupan sehari hari. semoga bermanfaat.

July 24, 2020

Guru dan Pembelajaran Jarak jauh

Sumber gambar : majalah1000guru


Pendidikan belum runtuh gara-gara pendemi. Mungkin "chaos", karena cara belajar yang berubah mendadak. Kelas ekonomi hampir saja menjadi determinan layanan pendidikan formal.

Untunglah, insan- insan lembaga pendidikan masih mau "menunduk". Masih mau melayani pembelajaran luar jaringan/luring. Kalau tidak, celakalah pendidikan jika hanya dapat diakses oleh kelas menengah keatas.

"Chaos" ini melahirkan kebingungan.  Kebingungan guru, kebingungan orang tua, ataupun siswa sendiri. Kita semua sama-sama bingung. Tapi bukan menjadi alasan untuk menyerah.

Lalu bagaimana kita menghadapi kebingungan?.

Kondisi kebingungan membutuhkan konektivitas, kita semua haruslah bekerjasama. Bukan sibuk saling menyalahkan. Apalagi menyerah. Kita semua harus "bergandeng tangan" menghadapi kebingungan ini.

Memang wajar cara-cara pembelajaran masa pandemi tidak mudah diterima. Hukum alam memang seperti itu. Setiap makhluk/ciptaan punya kelembaman. Tidak akan sanggup makhluk-makhluk berubah mendadak dengan mantra "sim salabim". Semua ada prosesnya. Kontradiksi itu biasa, kelak akan melahirkan sintetis. Kita akan mendekati kepuasan dari kontradiksi-kontradiksi itu.

Pembelajaran jarak jauh akan gagal jika kita terpaku pada teori-teori belajar klasik. Teori yang tidak disiapkan untuk situasi chaos. Teori yang lahir jauh sebelum teknologi menjadi ruang belajar.

Teori belajar 'connectivism' mungkin relevan untuk saat ini. Teori yang dikemukakan George siemens. Teori alternatif, disaat behaviourisme, kognitivisme dan konstruktivisme tak sanggup berbuat banyak.

Pembelajaran jarak jauh berbasis dalam jaringan (online) ibarat membuka kelas dipinggir sungai. Sungai itu mengalirkan "air informasi" yang cukup deras. Kelas akan "kebanjiran informasi" ataupun "kekeringan" jika tidak dikelola dengan baik.

Peran guru adalah membangun bendungan-bendungan informasi. Guru menyaring informasi yang valid dari sumber-sumber terpercaya. Siswa tidak sembarangan mengakses informasi yang tidak terjamin kebenarannya.

Informasi-informasi valid itu dikelola menjadi produk pembelajaran. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Siswa memproduksi pengetahuan yang dapat diakses sesama siswa itu sendiri. Produk pembelajaran itulah yang disebut pengetahuan.

Capaian produk pembelajaran  terbangun dari jejaring yang dibuat oleh guru. Disinilah pentingnya memilih platform yang digunakan. Pemilihan platform tidak boleh dipatok seragam. Tentu harus disesuaikan dengan konstruksi sosial di masing-masing tempat.

Pemilihan platform kemudian mewajibkan guru menjadi helpdesk, membantu para siswa yang kesulitan menggunakan platform tersebut.

Jelas tugas guru bertambah, tugas orang tua bertambah, demikian juga tugas para pengambil kebijakan di dunia pendidikan.

Akan tetapi, kita tidak boleh alergi pada pembelajaran jarak jauh. Bukankah sebagian pejabat adalah alumni pembelajaran  jarak jauh?.🙂

March 01, 2020

Pengeroyokan di Papua dan Amarah Orang Mandar


Sungguh terusik hati ini. Seorang lelaki dari Polewali Mandar, dipukuli hingga meregang nyawa. Terlihat jelas ia mencoba berlindung di belakang aparat keamanan. Tapi, aparat bersenjata lengkap itu tak mampu melindungi nyawanya.

Ia perantau seperti kita. Mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Jauh dari kampung halaman, dan tentulah tak suka membuat masalah. Manusia selalu menghindari masalah, karena itulah tabrakan disebut kecelakaan. Tak pernah namanya kecelakaan disengaja. Kecelakaan buah dari kelalaian, bukan perencanaan.

Kita semua pernah lalai dalam pekerjaan. Kelalaian itu ada hukumnya. Di negara hukum seperti Indonesia, tak pantas orang lalai dihakimi secara brutal. Hingga meregang nyawa di depan penegak hukum sendiri. Terlebih, penghakiman itu ternyata salah sasaran.

Jika masyarakat Mandar marah,itu wajar. Sama wajarnya dengan kemarahan orang-orang indonesia pada umumnya. Ini bukan soal orang Papua dan orang Mandar. Ini soal kemanusiaan yang tercoreng di era beradab.

Bukan hanya karena korban dari mandar yang meletuskan kemarahan. Ini adalah amarah dari rakyat indonesia, amarah karena nilai-nilai ideologi yang kita agung-agungkan itu tercoreng.

Orang Mandar tidaklah ekstrim dalam isu-isu primordial. Di tanah Mandar sendiri, banyak suku-suku lain yang diterima dengan baik. Bergaul seperti saudara mandarnya sendiri. Siapapun yang pernah memberi seteguk air putih, ia adalah saudara. Demikianlah pesan leluhur.

Orang mandar tak suka membuat masalah. Bahkan dianjurkan tidak frontal menghadapi masalah. Leluhur orang mandar berpesan "jika ada masalah menghadang, lewatlah diatasnya. Jika tak bisa, cari jalan di bawahnya. Pun tak bisa cobalah lewat di sampingnya. Dan jika memang tak ada jalan, kuatkan kuda-kudamu, Allah SWT penentunya."

Mungkin Masyarakat Mandar masih menyisakan kepercayaan pada penegak hukum saat ini. Kebiadaban itu harus dihukum seadil-adilnya. Sebelum amarah itu menjelma menjadi kebiadaban dalam bentuk lain.

December 14, 2019

Ketika UN diganti asesmen kompetensi


Menteri mah bebas bro. Mau ganti nama atau ganti bentuk ujian bisa dilakukan. Seorang menteri memang butuh terobosan kok. Kalau menteri itu ikut-ikut saja program menteri lama,  ya ngapain ganti menteri kan?

Salah satu terobosan "Mas Mendikbud" adalah mengganti Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi. Tapi jangan senang dulu ya anak-anak. Asesmen kompetensi ini juga tidak akan semudah ganti nomor WA. Namanya saja susah disebut nenek-nenek kita di kampung. Pastilah istilah ini tetap ada perjuangan di dalamnya.

UN memang sudah lemah dalam mengukur kompetensi kognitif.  Siapa yang melemahkan?.  Ya kita-kita juga kawan.
Beberapa dari kita (termasuk saya mungkin) menyarankan anak-anak beli buku latihan UN. Bahkan, latihan UN yang di buku itu ada yang betul-betul sama dengan ujian Nasional.

Disinilah tujuan ujian itu dimanipulasi. Anak-anak yang seharusnya diukur kompetensi pada level kognitif "analisis" justru menghafal cara penyelesaian soal itu dari buku atau dari bimbingan kita sendiri. Jadinya, soal itu turun level secara alami menjadi "ingatan". Ingatan tidak lain adalah hafalan. Maka wajar kalau sebenarnya kita sedang mencetak generasi 'ambyar'. Susah move on dari "mantan".

Bicara asesmen, mungkin asesmen yang dimaksud Mas Menteri ini sama dengan asesmen kebanyakan. Asesmen kompetensi biasanya didefenisikan sebagai pembuktian sebuah kompetensi. Anak-anak akan membuktikan kompetensinya, seperti pejabat yang mau menduduki jabatan tertentu. Mudah-mudahan "tidak sama".

Salah seorang siswa kemarin bertanya pada saya,
"kompetensi apa yang mau kami buktikan pak? "
Pertanyaan ini tentu tak serta merta, karena mereka telah membaca berita tentang itu.
Jawaban saya tidak rumit. Mereka memang masih SMP, ngapain dijelaskan panjang-panjang. Lagi pula saya takut "ndak nyampe" kalau sok tahu.

"asesmen itu kamu membuktikan kemampuanmu selama belajar di sekolah" jawab saya.

Siswa ini geleng-geleng. Seolah tak yakin dengan kompetensinya. Entah dia tak memahami istilah kompetensi, atau memang tidak tahu kompetensinya. Allah SWT maha tahu kemampuan hambanya. Tidak usah dibahas.

Yang perlu dibahas adalah penekanan asesmem itu sendiri. Pastilah proses yang dilalui anak-anak ini dijadikan pedoman asesmen itu. Ini juga titik masalah, karena proses yang dilalui anak-anak sekolah saat ini adalah diminta menguasai kompetensi per kompetensi. Ada juga sih kompetensi yang saling berkaitan. Maksudnya kalau tidak menguasai kompetensi satu, tidak akan mampu juga pada kompetensi berikutnya. Makanya ada anak-anak itu (kodong) kayak terseok-seok belajar IPA karena tidak tahu membagi bilangan desimal, pecahan, pangkat dan sebagainya. Untungnya anak-anak kita ini bermental baja. Tahu tidak tahu pokoknya tidak alpa. Kasihan juga kalau tidak dikasih nilai (rajin tawwa).

Jika asesmen kompetensi dilakukan, apakah proses menuju raihan kompetensi itu harus berubah? Jelas harus berubah. Apalagi ada slogan #merdekabelajar di dalamnya. Jangan kaget kalau nantinya kurikulum juga ikut berubah. Biarpun sedikit. Kurikulum berubah, guru berubah. Guru berubah sendiri? Mungkim saja,  tapi kebanyakan harus dipaksa berubah.

Perubahan Ujian nasional ke Asesmen kompetensi akan mengubah cara kerja guru juga.  Saya pake istilah "cara kerja" karena lebih baik didengar ketimbang perubahan kurikulum. #jangansenangdulu bapak/ibu. Mari kita bersiap saja. Ini cuma prediksi saya.

Terakhir, soal anak-anak yang 'kodong' itu. Kalau tetap kompetensinya tidak meningkat, apakah tetap dianggap "pengecualian sistem"?. Terserah kita saja. Mau pusing atau tidak 😂😂😂

October 07, 2019

Joker yang Tersisih dan Perlawanan Rakyat Miskin

Anak berkebutuhan khusus dan simbol perlawanan (Joker)
"SPOILER ALERT!"

Seorang guru harus belajar dari kisah Joker. Anak berkebutuhan khusus yang tidak diterima di lingkungan sosial. Sistem pendidikan tidak berpihak padanya. Itulah sebab ia tak punya riwayat pendidikan dalam kurikulum vitaenya. Ia memang tak mau sekolah. Impiannya cuma satu, membuat semua orang tertawa.

Pandangan umum bahwa seorang anak harus bersekolah, mendapat pekerjaan, lalu hidup damai bersama keluarga, tak bisa ia lakukan seperti orang kebanyakan. Perjalanan hidup justru menyeret joker jauh dari impiannya. 

Joker tak pernah lucu di mata orang-orang sekitarnya. Ia dianggap aneh karena tak seperti orang "normal" pada umumnya. Menjadi badutpun ia masih sering dianiaya dan disepelekan.

Terapi pengobatan penyakit psikologisnya harus terhenti karena pemotongan anggaran pemerintah. Ia adalah rakyat kecil yang jadi korban kebijakan umum, kebijakan yang tidak peduli pada pengecualian.

Kontrasnya kesenjangan sosial di kota Gotham membuat ia frustrasi. Ia melihat sekelilingnya, betapa banyak golongan miskin yang dilangkahi mayatnya. Sementara 1 orang meninggal dari golongan kaya menjadi 'headline' media massa berhari-hari.

Joker yang lugu mulai menyadari, bahwa orang-orang itu jahat pada dirinya. Puncaknya, ia lalu melakukan pembunuhan pada sekelompok pemuda yang mengganggu seorang gadis. Ia yang menggunakan riasan badut dicari-cari oleh polisi kota Gotham. Seluruh badut diperiksa.

Di sisi lain, munculnya badut pembunuh orang kaya justru menjadi bahan bakar perlawanan. Demonstrasi besar-besaran terjadi. Rakyat miskin yang selalu menjadi objek kebijakan melakukan protes besar-besaran. Semuanya menggunakan topeng badut. Joker kemudian mendapat tempat sebagai inspirator gerakan besar itu.

June 26, 2019

Tanda Tanda Zonasi Nikah akan Jadi Kenyataan


Zonasi pernikahan sampai hari masih sekedar 'banyolan'. Mungkin kedengaran mengada-ada, tapi kemungkinan ke arah sana ada.

Untuk mengurai kemungkinan itu, mari mulai dari filisofi zonasi: PEMERATAAN. Pemerataan bisa menjadi cikal bakal zonasi nikah. Mengingat  UANG PANAIK yang meningkat secara eksponensial. Semakin hari semakin tinggi. Hasilnya, hanya orang mapan finansial yang sanggup menikah. kira-kira itu yang akan terjadi nanti, jika dibiarkan.

Jika peningkatan uang panaik tidak terkendali, pemerintah tentu takkan tinggal diam atas kekacauan itu. Pemerintah harus mengambil langkah radikal seperti zonasi sekolah saat ini. Tidak boleh ada logika "pasar bebas" dalam cita-cita pemerataan. Semua harus diatur agar tak ada gadis desa yang direbut orang-orang kota kaya, apalagi laki-laki kaya dan bajingan. menjengkelkan.

Baca Juga



Langkah teknis paling mungkin dari zonasi nikah adalah laki-laki harus menerima perempuan dalam zonanya. Laki-laki yang menyeleksi zona, bukan perempuan. Alasannya, karena jumlah perempuan dominan lebih banyak dari laki-laki.

Keuntungannya, perempuan bisa sedikit mengurangi anggaran make-up, apalagi yang bertetangga dengan laki-laki ganteng. Keuntungannya lagi adalah tak perlu habis-habis pulsa data video call, toh jodohnya sudah jelas sejak lahir.

Tidak ada lagi gadis-gadis operasi plastik sana-sini. Toh nikahnya tetap sama tetangga, secantik apapun dia. Kompetisi tak diperlukan. Laki-lakipun tak perlu di-akreditasi karena sudah jelas "pegangan hidupnya". Berilah hukuman bagi laki-laki yang meng-akreditasi dirinya. Seperti sekolah yang mengaku mendukung pemerataan tapi memajang di gerbang dan kop surat AKREDITASI A, bede.

Lalu bagaimana dengan cinta?

Percayalah, cinta akan beradaptasi dengan zonasi. Seperti zaman dulu, saat transportasi dan komunikasi belum lancar. Orang menikah dengan sekampung atau keluarganya saja. Jikapun ada yang keluar kampung, itu semacam jalur prestasi.
Cinta akan kembali ke hakikinya, sebelum beradaptasi mengikuti perkembangan komunikasi dulu.

Tak usah protes kalau kebijakan zonasi nikah betul-betul diberlakukan. Itu lebih baik dari pada saat ini. Mungkin kalian tidak sadar, saat ini menikah di-zonasi berdasarkan kelas ekonomi. "Jalur prestasi" dimana si kaya menikahi si miskin hanya 0.000001 % kemungkinannya. Kecuali drama korea, banyak sekali, tapi itu fiksi.

"Wahai anak muda, lawanlah kenaikan Uang Panaik. Kalau tidak, Zonasi Nikah akan benar-benar nyata."😂

#wangsitmalamkamis

April 29, 2019

Pilpres Itu adalah

Setiap peristiwa ada klimaksnya. Semua akan kembali ke titik normal. Pada waktunya. Demikian juga peristiwa politik. Berjalan seperti biasa. Guru-guru tetap memegang spidol. Petani tetap menggarap lahan. Pedagang masih setia berjualan. Kuli-kuli bangunan masih tetap bekerja keras.
Lalu apa yang berubah?
Yang berubah adalah golongan anu. Si anu akan jadi menteri. Si anu akan memegang proyek triliunan. Si anu akan jadi pejabat di sana atau di sini. Si anu menunggu balas budi.
Begitulah, arah angin saja yang berubah. Hanya pohon-pohon tinggi yang terkena tiupannya. Sementara rumput-rumput hanya menonton goyangan pohon tinggi. Berdoa agar tak tumbang, agar rumput-rumput ini tak mati tertindih.

Baca Juga


Ada juga golongan anu yang cerdas. Punya ide-ide cemerlang, diiya-iyakan oleh sang tuan. Tapi idenya mati di tengah jalan, tertusuk duri-duri undang-undang ini itu, peraturan ini itu, kerugian ini itu. Golongan anu satu ini tak mampu berbuat apa-apa.
Yang paling menyedihkan adalah mereka yang fanatik. Berdebat keras dengan amunisi ego. Tak dibayar, karena ego memang selalu gratis. Mereka ini seperti burung-burung kecil, terbang tinggi tak sanggup, terbang rendah pun tak enak. Sesekali mereka diberi makan dari buah pohon besar, kadang juga diperangkap untuk dipelihara.
Jargon perubahan tak pernah sepi. Tertulis di baliho besar. Baliho yang nantinya jadi kandang ayam atau alas tidur para tuna wisma. Perubahan itu tak berhenti adanya. Tanpa dijanjikan pun tetap akan ada perubahan. Hanya orang-orang bodoh yang menjanjikan matahari terbit di pagi hari. Sama bodohnya dengan yang mau dijanji.
Si anu akan kembali pada musimnya. Membawa angin timur atau barat, selatan atau utara, tergantung dimana dia diuntungkan. Siklus yang tak pernah berhenti. Siklus yang terperangkap dalam sistem. Orang-orang yang berniat baik pun terperangkap dalam sistem itu. Dipaksa memainkan permainan "serang-serangan" jika ingin menang. "caleg miskin" akan selamanya jadi keajaiban, karena mesin politik tidak jalan dengan daun-daun.
Mari kita menjaga akal sehat kita. Agar tak menjadi rumput yang tertindih pohon tumbang. Agar tak menjadi burung kecil yang berkicau saat lapar. Apalagi menjadi sapi pemakan rumput, demi menghasilkan susu untuk sang tuan.

March 02, 2019

Akhirnya Gurulah yang Berkarakter


Sebenarnya karakter siapa yang berubah sejak pendidikan karakter digaungkan?. Kelihatannya guru malah yang bergeser karakternya. Guru seperti dipaksa berkompromi dengan anak-anak yang mengganggu teman saat belajar. Memaklumi mereka yang meneriaki guru dengan panggilan "anu". Yang membantah pernyataan guru dengan nada tinggi.
Jangan kira suara mereka meninggi saat ditegur di depan teman-temannya saja. Bahkan ketika dipanggil baik-baik empat mata pun sama saja. Gugur teori di buku-buku. Sopan santun sebagai karakter orang Indonesia dimana?
Ini realita. Siswa mana saat ini yang tidak membantah walaupun kedapatan memanjat pagar, atau jelas-jelas bolos tapi mengaku hadir. Percayalah, ada yang seperti itu. Mereka ini kalau ditegur malah lebih dulu marah. Tidak hanya di sekolah, beberapa orang tua siswa juga mengaku menyerah pada bantahan anaknya.
Saat siswa semakin keras membantah. lalu meneriaki guru di depan teman-temannya. Apa yang harus dilakukan oleh guru?. Ikut marah maka raga terpenjara, bersikap biasa justru jiwanya yang terpenjara.

Baca Juga


Konsep pedagogik mana yang tepat saat ini?. Konsep yang mana kawan?. Pendekatan personal apa yang cocok sementara guru menghadapi ratusan siswa dalam kelas klasikal?. Bingung saya kawan. Bantu saya. Katanya "kunci kemajuan adalah tegaknya aturan". Tapi kunci penjara ada di penegakan aturan. Macam mana ini?.
Guru seperti pendekar yang kehilangan jurus. Seperti Wong Fei Hung yang dipotong rambutnya. Gambar Pattimura tanpa parang. Mie instan tanpa bumbu. Coto tanpa sendok. Banyak lagi perumpamaan yang cocok. Macam mana mau menegakkan aturan.
Apakah solusinya pembuktian administrasi?. Hingga itu yang selalu diwanti-wanti. Atau memang kita tidak siap dengan revolusi industri?. Jawab dong.
Harapan mengubah karakter siswa malah berbalik arah. Guru yang berubah karakternya. Guru cari aman, hanya perlu menikmati gaji dan tunjangan. Kemudian pulang kampung di libur semester.

January 31, 2019

STOP GURU HONORER, OUTSOURCHING JALAN TERUS

Di sebuah sekolah nan jauh dari "sentral peristiwa", kebutuhan guru tinggi, sementara ketersediaan tenaga guru dibawah level harapan. Ketika tiba-tiba penerimaan honorer di sekolah itu dihentikan, maka kekurangan guru menjelma menjadi kehilangan guru.
Penerimaan CPNS sebagai harapan nyata, masih tak merata penempatannya. Masih ada lubang-lubang kosong yang tak tertutupi. Merekrut tenaga honorer sudah diharamkan, hingga guru yang ada harus bekerja ekstra, yang entah bagaimana hasilnya.
Penghentian rekruitmen guru honorer harus kita akui sebagai kontrol untuk menjaring Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Terlihat sangat baik dan solutif. Akan tetapi, di sekolah nan jauh, terlahir "monster". Monster yang memberi kegamangan pada para pengisi kekosongan di sekolah itu.
Sekolah yang kekurangan guru itu, terpaksa merekrut outsourching (pekerja lepas). Inilah monsternya. Mereka direkrut tanpa perjanjian atau kejelasan waktu, apalagi kejelasan masa depan. Guru honorer hanya berstatus sebagai guru pengganti. Tak seperti pemain pengganti pada sepak bola, guru pengganti tak digaji jika tak bermain. Sedih sekali, karena menjadi guru honorer atau pengganti tak akan pernah memberi finansial yang baik. Sejak dulu.

Baca Juga


Guru pengganti (pekerja lepas) akan semakin jauh dari kesejahteraan. Polemik kesejahteraan yang tak pernah selesai dan akan semakin tak selesai dengan hadirnya sistem outsourching. Keadilan sosial macam apa ini?.
Dunia ini terlalu "kapital" untuk mempertahankan kata "pengabdian". Sepatu mengkilap dari para "fresh graduate" semakin lama semakin kusam, lalu robek, alasnya pupus hingga terlepas. "pengabdian" tertinggal di persimpangan waktu, atau mungkin berpi dah ke dimensi lain di luar ruang dan waktu.
Seharusnya negeri ini tak kekurangan guru. Melihat peningkatan jumlah perguruan tinggi kependidikan sejak 2005 lalu, calon guru melimpah tapi tetap kekurangan guru. Ada apa?. Sekali lagi kalimat ini harus diulangi, "dunia terlalu kapital untuk kata pengabdian".
Memang masih ada yang bertahan dengan pengabdian, mungkin itulah penyangga terakhir pendidikan kita masih berdiri sampai hari ini. Semoga penyangga ini tak cepat rapuh atau selalu ada penggantinya.

December 27, 2018

Teknik Penyusunan Kisi Kisi Soal untuk Guru

Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat informasi yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi tes. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penggunaan tes. Penyusunan kisi-kisi merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum penulisan soal.

Dengan adanya kisi-kisi, penulis soal akan menghasilkan soal-soal yang sesuai
dengan tujuan dan perakit soal akan lebih terarah dalam merakit tes. Bila beberapa penulis soal menggunakan satu kisi-kisi, akan dihasilkan soal-soal yang relatif sama  (paralel) dari tingkat kedalaman dan cakupan materi yang ditanyakan.

Kisi-kisi tes prestasi akademik harus memenuhi persyaratan berikut.

  1. Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan. 
  2. Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami. 
  3. Indikator soal harus jelas dan dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan.

Komponen-komponen yang diperlukan dalam sebuah kisi-kisi disesuaikan dengan tujuan tes. Komponen kisi-kisi terdiri atas komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas diletakkan di atas komponen matriks.

Contoh komponen identitas yang dimasukkan adalah jenis/jenjang sekolah, program studi/jurusan, mata pelajaran, tahun ajaran, kurikulum yang diacu, alokasi waktu, jumlah soal, dan bentuk soal. Komponen-komponen matriks berisi kompetensi dasar yang diambil dari kurikulum, kelas dan semester, materi, indikator, dan nomor soal.

Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan proses penjabaran kompetensi dasar (KD) menjadi indikator.



Keterangan diagram : 
Kompetensi dasar  :  Kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik setelah mempelajari materi pelajaran tertentu. KD  ini diambil dari kurikulum.

Materi  :  Materi/konsep  yang harus dikuasai  peserta didik berdasarkan  KD  yang akan diukur. Penentuan materi disesuaikan dengan indikator yang akan disusun.

Indikator  :  Berisi ciri-ciri perilaku yang dapat diukur sebagai petunjuk  ketercapaian  KD. Indikator ini yang akan dijadikan acuan dalam  membuat soal.  Indikator dirumuskan sesuai dengan tingkat kompetensi yang akan dicapai dalam KD.

Diagram di atas menunjukkan bahwa seorang  penyusunkisi-kisi  dalam menjabarkan KD menjadi indikator perlu melalui langkah-langkah berikut:

  1. Memilih KD yang akan diukur; 
  2. Menentukan materi; 
  3. Membuat indikator yang mengacu pada  KDdengan memperhatikan materi/konsep yang dipilih.

Karena keterbatasan jumlah soal, kadang-kadang   perlu memilihKD yang esensial. Adapun kriteria pemilihan KD yang esensial adalah:

  • Merupakan  KD  lanjutan/pendalaman dari satu  KD  yang sudah dipelajari sebelumnya. 
  • Merupakan KD penting yang harus dikuasai peserta didik. 
  • Merupakan KD  yang sering diperlukan untuk mempelajari mata pelajaran lain. 
  • Merupakan KD yang berkesinambungan yang terdapat pada semua jenjang kelas. 
  • Merupakan KD yang memiliki nilai terapan  tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Kriteria indikator 

  1. Memuat ciri-ciri KD yang akan diukur. 
  2. Memuat kata kerja operasional yang dapat diukur  (satu kata kerja operasional untuk soal pilihan ganda, satu atau lebih dari satu kata kerja operasional untuk soal uraian). 
  3. Berkaitan dengan materi/konsep yang dipilih. 
  4. Dapat dibuat soalnya sesuai dengan bentuk soal yang telah ditetapkan. 

Komponen-komponen  indikator soal  yang perlu diperhatikan adalah subjek, perilaku yang akan diukur, dan kondisi/konteksnya.

(Sumber : Materi Workshop Puspendik 2016)

December 08, 2018

Konsep dan Level Pembelajaran Inkuiri


Untuk memahami konsep pembelajaran Inkuiri, ada baiknya kita menyimak definisi tentang inkuiri sebagai berikut :


  • Inkuiri ilmiah mengacu pada beragam cara di mana ilmuwan mempelajari alam dan mengajukan penjelasan berdasarkan bukti yang berasal dari penyelidikan mereka. Inkuiri juga mengacu pada kegiatan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan dan pemahaman akan gagasan ilmiah, serta pemahaman tentang bagaimana ilmuwan mempelajari alam. (National Science Education Standards – NRC, 1995).

  • Inkuiri ilmiah adalah cara ampuh untuk memahami sains. Peserta didik belajar bagaimana mengajukan pertanyaan dan menggunakan bukti untuk menjawabnya. Dalam proses pembelajaran inkuiri, peserta didik belajar melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti dari berbagai sumber, mengembangkan penjelasan dari data, mengomunikasikan dan mempertahankan kesimpulan mereka." (National Science Teachers Association – NSTA)


Berdasarkan dua definisi tersebut maka pembelajaran inkuiri memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, merencanakan penyelidikan untuk menjawab pertanyaan, mengumpulkan data/ bukti berdasarkan hasil penyelidikan atau dari berbagai sumber, mengomunikasikan, dan mempertahankan hasil penyelidikannya.

Kegiatan pembelajaran “berorientasi pada inkuiri” membekalkan kemampuan pada peserta didik untuk melakukan inkuiri ilmiah yang terdiri atas: mengidentifikasi pertanyaan yang mengarahkan pada suatu penyelidikan ilmiah, merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah, menggunakan teknologi dan matematika untuk memperbaiki penyelidikan, merumuskan dan merevisi penjelasan ilmiah dengan menggunakan logika dan bukti, mengenali dan menganalisis penjelasan dan model alternatif, serta mengomunikasikan dan mengajukan argumen ilmiah.

Hal ini sejalan dengan keterampilan Proses Sains menurut Conceptual Framework for New Science Education Standards (2011) yaitu:

1) Mengajukan pertanyaan (untuk ilmu pengetahuan) dan mendefinisikan masalah (untuk rekayasa)
2) Mengembangkan dan menggunakan model
3) Merencanakan dan melakukan investigasi
4) Menganalisis dan menafsirkan data
5) Menggunakan matematika dan berpikir komputasional
6) Membangun penjelasan (untuk ilmu pengetahuan) dan merancang solusi (untuk rekayasa)
7) Terlibat dalam argumentasi ilmiah berdasarkan bukti
8) Mendapatkan, mengevaluasi, dan mengomunikasikan informasi

Wenning (2005a, 2010) memperkenalkan Model Tingkat Penyelidikan untuk pengajaran sains dan kemudian menjelaskan urutan pembelajaran terkait. Menurut Wenning (2012) secara sistematis menangani berbagai level of inquiry: discovery learning, interactive demonstrations, inquiry lessons, inquiry labs, and hypothetical inquiry (disebut juga inquiry spectrum), guru akan membantu peserta didik mengembangkan yang lebih luas. Berbagai keterampilan proses intelektual dan ilmiah. Sekarang termasuk dalam spektrum inkuiri adalah aplikasi dunia nyata dengan dua variannya - memecahkan masalah di akhir bab dan memecahkan masalah yang autentik.

Proses pembelajaran pada setiap level of inquiry diuraikan sebagai berikut :

1. Discovery Learning

Fokus pembelajaran penemuan bukanlah untuk menemukan aplikasi untuk pengetahuan, melainkan pada membangun konsep dan pengetahuan berdasarkan  pengalaman belajar peserta didik. Dengan demikian, discovey learning menggunakan refleksi sebagai kunci untuk memahami konsep.

Guru memperkenalkan sebuah pengalaman sedemikian rupa untuk meningkatkan relevansi atau maknanya, menggunakan serangkaian pertanyaan selama atau setelah pengalaman untuk membimbing peserta didik mencapai kesimpulan tertentu, dan memberi pertanyaan kepada peserta didik untuk mendiskusikan langsung yang berfokus pada masalah atau kontradiksi yang nyata.

Dengan menggunakan penalaran induktif, peserta didik membangun hubungan atau prinsip sederhana berdasarkan hasil pengamatan yang dipandu guru.

2. Interactive Demonstration

Demonstrasi interaktif umumnya terdiri dari seorang guru yang memanipulasi (mendemonstrasikan) peralatan dan kemudian mengajukan pertanyaan menyelidik tentang apa yang akan terjadi (prediksi) atau bagaimana sesuatu yang mungkin terjadi (penjelasan). Guru bertugas melakukan demonstrasi, mengembangkan dan mengajukan pertanyaan menyelidik, memunculkan tanggapan, meminta penjelasan lebih lanjut, dan membantu peserta didik mencapai kesimpulan berdasarkan bukti. Guru akan mendapatkan permasalahan yang muncul dari peserta didik. Guru memodelkan prosedur ilmiah yang sesuai pada tingkat yang paling mendasar, sehingga membantu peserta didik belajar secara implisit mengenai proses penyelidikan.

3. Inquiry Lesson

Dalam banyak hal, Inquiry Lesson serupa dengan demonstrasi interaktif. Namun, ada beberapa perbedaan penting. Dalam Inquiry Lesson, penekanan secara halus beralih ke bentuk percobaan ilmiah yang lebih kompleks. Guru masih berperan memberikan panduan, fasilitator, dan menggugah pertanyaan. Bimbingan diberikan secara tidak langsung dengan menggunakan strategi tanya jawab yang tepat.

Guru memfasilitasi peserta didik untuk merencanakan percobaan sendiri, mengidentifikasi dan mengendalikan variabel. Guru secara eksplisit dengan memberikan panduan tentang saintifik proses melalui pertanyaan pembimbing. Guru memodelkan proses intelektual mendasar dan menjelaskan pemahaman mendasar tentang saintifik inkuiri sementara peserta didik belajar dengan mengamati, mendengarkan, dan menanggapi pertanyaan. Proses pembelajaran pada level ini mengajak peserta didik “berpikir keras” (think aloud).

Pendekatan ini akan lebih membantu peserta didik memahami proses inkuri. Inquiry Lesson ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara demonstrasi interaktif dan Inquiry Lab. Hal ini terjadi karena tidak beralasan untuk mengasumsikan bahwa peserta didik dapat menggunakan pendekatan eksperimental yang lebih canggih sebelum mereka mengenalnya.

4. Inquiry Labs

Inquiry Lab adalah kegiatan membimbing peserta didik lebih mandiri dalam mengembangkan dan melaksanakan rencana eksperimen dan mengumpulkan data yang sesuai. Data ini kemudian dianalisis untuk menemukan hukum - hubungan yang tepat antara variabel. Pendekatan Inquiry Lab melibatkan aktivitas peserta didik sebagai berikut:


  • Didorong oleh pertanyaan yang membutuhkan keterlibatan intelektual berkelanjutan dengan menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk pemikiran independen;
  • Fokuskan kegiatan peserta didik dalam pengumpulan dan data untuk menemukan konsep, prinsip, atau hukum baru yang bergerak dari konkret menjadi abstrak;
  • Meminta peserta didik untuk membuat desain eksperimental mereka sendiri; mewajibkan peserta didik untuk mengidentifikasi, membedakan, dan mengendalikan variabel-variabel penting dan dependen; dan mendorong peserta didik memiliki keterampilan dan kemampuan saintifik inkuiri;
  • Biasanya memungkinkan peserta didik belajar dari kesalahan prosedur; memberikan waktu dan kesempatan bagi peserta didik untuk membuat dan memperbaiki kesalahannya;
  • Menggunakan prosedur yang jauh lebih konsisten dengan praktik ilmiah otentik; 


5. Real-world Applications

Dalam pembelajaran level berikutnya peserta didik menerapkan apa yang telah mereka pelajari melalui pengalaman ke situasi baru. Mereka menemukan jawaban yang berkaitan dengan masalah otentik saat bekerja secara individu atau dalam kelompok kooperatif dan kolaboratif dengan menggunakan pendekatan berbasis masalah & berbasis proyek.

Kegiatan ini mengarahkan peserta didik bagaimana sebenarnya para ilmuwan dalam memecahkan masalah. Dalam pembelajaran berbasis masalah atau berbasis proyek akan berfungsi untuk melatih peserta didik dalam menggunakan konsep, prinsip, dan hukum dalam memecahkan masalah sehari-hari/ kontekstual.

6. Hypothetical Inquiry

Pada level ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan hipotesis dan pengujian. Hypothetical Inquiry perlu dibedakan dari membuat prediksi, perbedaan yang tidak dipahami banyak guru fisika atau dengan peserta didik mereka. Prediksi adalah pernyataan tentang apa yang akan terjadi mengingat satu set kondisi awal.

Contoh prediksi adalah, "Ketika saya dengan cepat meningkatkan volume gas, suhunya akan turun." Prediksinya tidak memiliki kekuatan penjelasan apa pun, meskipun mungkin deduksi logis berasal dari hukum atau pengalaman. Hipotesis adalah penjelasan sementara yang dapat diuji secara menyeluruh, dan hal itu dapat mengarahkan penyelidikan lebih lanjut. Contoh hipotesis mungkin karena senter gagal bekerja karena baterainya sudah mati.

Untuk menguji hipotesis ini, seseorang mungkin mengganti baterai yang sudah soak/rusak dengan baterai baru. Jika itu tidak berhasil, hipotesis baru dihasilkan. Hipotesis terakhir ini mungkin berkaitan dengan kontinuitas rangkaian seperti bola lampu yang terbakar atau kabel yang putus. Hypothetical Inquiry berhubungan dengan memberikan dan menguji penjelasan (biasanya “bagaimana”, bukan “mengapa”), untuk menjelaskan hukum atau pengamatan tertentu.

Baca Juga



Keuntungan pembelajaran dengan Level of inquiry (LOI) adalah


  • Urutan pembelajaran LOI  memberikan struktur pembelajaran peserta didik yang berorientasi pada potensi peserta didik. 
  • Guru dapat dengan lebih cepat merencanakan serangkaian pelajaran yang berorientasi pada penyelidikan yang koheren. 
  • Peserta didik mengalami semua fase penyelidikan yang bergerak dari dasar sampai pada tingkat tinggi. 
  • Peserta didik dapat memahami sains sebagai produk dan proses.

Tahapan pembelajaran berbasis inkuiri ini dapat dilakukan sepenuhnya dari tahap pertama discovery learning sampai tahap enam hypothetical inquiry, namun bisa juga tidak sampai level tertinggi, hal ini disesuaikan dengan karakteristik konten sainsnya.
Keterampilan Sains dan Keterampilan Intelektual yang dilatihkan pada pada Pembelajaran Berbasis Inkuiri

1. Rudimentary Skills (paling erat kaitannya dengan Discovery Learning)

* Klasifikasi (penalaran induktif) - Mengkategorikan fenomena berdasarkan kesamaan, atribut yang berbeda, atau kriteria lainnya. Misalnya, mengelompokkan objek berdasarkan sifat yang dapat diamati.

* Konseptualisasi (penalaran induktif) - Menggunakan observasi kritis terhadap fenomena spesifik suatu fenomena untuk menciptakan sebuah abstraksi yang dikenal sebagai sebuah konsep.

* Concluding (penalaran induktif) - Membuat data kualitatif sederhana dengan menggunakan penalaran ilmiah untuk menetapkan pernyataan ‘jika-maka’ atau hubungan serupa berdasarkan kesamaan.

* Kontekstualisasi (penalaran induktif) - Setelah diperkenalkan pada sebuah topik, peserta didik diminta untuk melakukan brainstorming contoh fenomena tertentu.

* Ordering (penalaran induktif) - Mengatur set objek secara berurutan dengan menggunakan karakteristik umum.

* Generalisasi (penalaran induktif) - Membuat pernyataan umum dengan menyimpulkan dari kasus tertentu. Menggunakan pengamatan kritis terhadap contoh spesifik suatu fenomena untuk menghasilkan asas kualitatif yang menggambarkan hubungan antar variabel.

* Permasalahan (penalaran induktif) - Mengidentifikasi secara umum masalah - apakah itu pertanyaan, kebutuhan, ketidakpastian, atau keinginan - yang memerlukan resolusi. Setelah meninjau kembali contoh-contoh fisik dari topik yang sedang diperkenalkan, para peserta didik mengidentifikasi satu atau lebih masalah yang membutuhkan solusi.

2. Keterampilan Dasar - (paling erat kaitannya dengan Demonstration Interactive)

* Memperkirakan/ Estimating (penalaran deduktif) - Menentukan kira-kira melalui perhitungan atau proses penalaran lainnya memperkirakan nilai suatu kuantitas atau tingkat fenomena yang sedang dipertimbangkan.

* Menjelaskan/ Explaining (penalaran induktif) - Menghipotesiskan, menerjemahkan, menafsirkan, atau membuat jelas dengan memberikan detail, informasi, atau gagasan tambahan.

* Memprediksi (penalaran deduktif) - Meramalkan apa yang akan terjadi atau akan menjadi konsekuensi suatu peristiwa atau tindakan di bawah keadaan atau kondisi tertentu dengan menggunakan bukti empiris selama proses ekstrapolasi.

* Menggunakan pemikiran kondisional (penalaran deduktif) - Menggambar kesimpulan dari pernyataan ‘jika-maka’.

3. Intermediate Skills – (paling erat kaitannya dengan Inquiry Lesson) 

* Menerapkan informasi (penalaran deduktif) - Mengatasi masalah dalam situasi baru dengan menerapkan pengetahuan, fakta, teknik dan peraturan yang telah diperoleh sebelumnya dengan cara yang berbeda. Misalnya, informasi dari pengalaman sebelumnya dengan sebuah fenomena yang digunakan untuk mengembangkan eksperimen.

* Menggambarkan hubungan (penalaran induktif) - Mengidentifikasi dan meringkas hubungan (jika-kemudian pernyataan, hukum, dll.) Dalam bentuk fisik terukur termasuk karakteristik atau kualitas yang relevan.

* Membuat data kuantitatif sederhana (penalaran induktif) - Memeriksa data untuk mencari dan mengidentifikasi tren dan kemungkinan hubungan fisika atau matematis dengan menggunakan pendekatan seperti grafik atau korelasi.

* Menggunakan pemikiran kombinatorial (penalaran induktif) - Penalaran semua kemungkinan kombinasi, identifikasi semua kemungkinan cara di mana sejumlah variabel dalam sistem tertentu dapat berinteraksi.

* Menggunakan pemikiran korelasional (penalaran induktif) - Mengakui atau menolak adanya hubungan sebab-akibat meskipun ada kejadian yang bersamaan (kebetulan). Misalnya, peserta didik dapat menjelaskan bahwa sementara korelasi tidak menunjukkan sebab-akibat, kurangnya korelasi yang menunjukkan kurangnya penyebab.

4. Keterampilan Terintegrasi - (paling erat kaitannya dengan Inquiry Laboratory)

* Mendefinisikan dengan tepat masalah yang harus dipelajari (penalaran induktif) - Jelas menyatakan, setelah meninjau bukti empiris, sebuah masalah yang membutuhkan solusi.

* Mendefinisikan secara tepat sistem yang akan dipelajari (penalaran deduktif) - Menganalisis dan mengidentifikasi semua bagian interaksi dari fenomena fisika termasuk kejadian di lingkungan sekitar yang terkait dengan pertanyaan yang harus dijawab melalui eksperimen.

* Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah yang terkontrol (penalaran deduktif) - menetapkan hanya satu variabel independen dan satu variabel dependen pada satu waktu, menetapkan semua variabel terkait lainnya yang konstan selama percobaan.

* Menafsirkan data kuantitatif untuk menetapkan hukum yang menggunakan logika (penalaran induktif) - Menggunakan grafik atau representasi lainnya untuk menganalisis konsekuensi dari perubahan variabel independen terhadap variabel dependen sehingga dapat mengidentifikasi prinsip.

5. Culminating Skills – (paling erat kaitannya dengan Real-world Applications)

Menggunakan penalaran kausal untuk membedakan kejadian dari sebab dan akibat (penalaran induktif) - Hanya karena dua hal bersifat sementara, tidak berarti ada mekanisme kausal.

Menggunakan penalaran kausal untuk membedakan korelasi dari sebab dan akibat (penalaran induktif) - Sama seperti satu hal meningkat saat kenaikan atau penurunan lainnya dan sebaliknya tidak selalu ada hubungan sebab-akibat.  Hanya bila percobaan terkontrol dilakukan, seseorang dapat mengatakan bahwa hubungan semacam itu didukung oleh bukti.

Menggunakan data dan matematika dalam pemecahan masalah dunia nyata (penalaran deduktif)

- Penting untuk tidak hanya mengetahui matematika, tapi tahu bagaimana dan kapan menerapkannya pada masalah dunia nyata. Ini bisa berkisar dari menafsirkan grafik dengan benar hingga membuat perhitungan sederhana untuk menarik kesimpulan.

Merangkum untuk tujuan membenarkan secara logis kesimpulan berdasarkan bukti empiris. (Penalaran deduktif) - Menjelaskan dalam bentuk keputusan yang dapat dipahami yang dikembangkan melalui analisis beberapa fenomena spesifik. Misalnya, menggunakan simbol atau kata untuk ditulis dan/atau lisan membentuk makna seperangkat pengamatan, seperti formulasi hubungan lisan ("Jika ... maka ..." atau " ______ meningkat, maka ______ berkurang."), Atau representasi sederhana dari persamaan, rasio, grafik, atau gambar.

Menggunakan penalaran proporsional untuk membuat prediksi (penalaran deduktif) - Dengan adanya hukum matematika dan perubahan variabel, meramalkan dengan tepat konsekuensi dari perubahan tersebut.

Menentukan apakah jawaban atas suatu masalah atau pertanyaan masuk akal termasuk ukuran dan / atau unit (penalaran deduktif).

6. Advanced Skills – (paling erat kaitannya dengan Hypothetical Inquiry)

* Menghasilkan prediksi melalui proses deduksi (penalaran deduktif) - Menggunakan dugaan kebenaran sebuah hukum, prinsip, atau penjelasan hipotetis untuk meramalkan hasil dari situasi tertentu.

* Menghasilkan dan mengevaluasi analogi (penalaran induktif) - Mendefinisikan analogi ke beberapa sistem dan kemudian menentukan kesesuaian berbagai gambaran  komparatif dalam sistem yang dianggap analog.

* Berpikir secara analogis (penalaran induktif) - Menggunakan penalaran berdasarkan gagasan bahwa dua hal serupa dalam banyak hal jika tidak semua cara memungkinkan kesimpulan yang dihasilkan dalam satu domain diterapkan ke domain lain.

* Berpikir untuk mengasimilasi konsep (penalaran induktif) - Ini adalah tipe pemikiran yang menghuni peserta didik saat mereka berusaha memahami pengamatan atau gagasan, dan menghubungkannya atau mendamaikannya dengan pengetahuan yang mereka miliki.

* Berpikir secara deliberatif (penalaran deduktif) - Jenis penalaran ini mengharuskan peserta didik untuk menyimpulkan konsekuensi dari kesimpulan atau penilaian mereka mulai dari konsep, prinsip, hukum, dan sebagainya. Peserta didik akan membuat prediksi berbasis hipotesis, dan menguji prediksi tersebut untuk melihat apakah data mendukung atau sebaliknya.

* Berpikir secara reflektif (penalaran induktif) - Jenis penalaran ini mengharuskan peserta didik untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti, merumuskan keputusan menggunakan logika, dan membuat penilaian berdasarkan nilai yang sesuai.


Demikianlah pemeparan ringkas tentang konsep dan level pembelajaran inkuiri serta keterampilan sains dan intelektual yang dilatih dalam pembelajaran inkuiri.

Semua materi diatas didapatkan pada Pelatihan Diseminasi Pembelajaran IPA oleh PPPPTK IPA yang disusun oleh Ida Kaniawati FPMIPA UPI.

November 28, 2018

Catatan Seminar Literasi Digital kabupaten Nunukan Tahun 2018

Catatan ini lahir setelah mengikuti Seminar Literasi Digital  oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Indonesian Women IT Awareness (IWITA) dan difasilitasi oleh Himpunan Mahasiswa Pelajar Sebatik (HIPMATIK) di Kabupaten Nunukan.

Martha Simanjutak, SE. MM
(Founder IWITA)
Persoalan perempuan dan  anak di Indonesia masih belum selesai sampai hari ini. Semakin kompleks, mengingat saat ini dunia telah diekspansi oleh teknologi digital. Sejak penggunaan smartphone menyebar luas dari kota hingga ke pedalaman, media sosial menjadi lumrah. Hampir setiap orang memiliki akun media sosial, terutama generasi yang lahir dari tahun 2005 hingga 2010.

Ancaman datang tak terelakkan, media sosial tidak seperti koran atau media massa lainnya. Media sosial tidak punya filter yang kuat terhadap konten-konten negatif. Konten negatif seperti berita HOAKS, cyber bullying dan hate speech berkembang liar dan diakses oleh siapa saja, tak terkecuali perempuan dan anak-anak.

Produksi konten negatif tidak hanya dilakukan di media sosial. Produksi konten negatif bahkan bisa bersumber dari blog dan website yang dibuat untuk kepentingan tertentu. Bahkan berita HOAKS telah menjelma menjadi industri, sebut saja Saracen, kelompok penyebar berita palsu yang dibayar pihak tertentu.

Masalah lain dari media Media sosial adalah pelanggaran privasi. Ada begitu banyak data pribadi yang terekspos baik sengaja maupun tidak sengaja ke media sosial. Data-data dan foto-foto pribadi yang di unggah ke media sosial kadangkala digunakan untuk hal negatif oleh orang lain.

Sebuah ironi, karena media sosial yang seharusnya menjadi tempat berinteraksi dengan teman-teman jauh justru menjadi tempat datangnya model kejahatan baru.

Kabupaten Nunukan Provinsi kalimantan Utara, juga tak luput dari fenomena diatas. Sebagai contoh peristiwa satu tahun yang lalu, tentang berita penculikan anak di Sebatik. Berita ini menyebar dengan cepat melalui Facebook dengan caption hujatan dan marah. Seantero Nunukan heboh, foto anak dan seorang laki-laki itu juga berseliwerang di berbagai grup Whatsapp dengan kata-kata menghakimi. Tak berselang lama, anak dan laki-laki itu diamankan oleh polisi.

Sangat mengejutkan, karena keduanya ternyata ayah dan anak kandungnya. Belakngan, netizen Nunukan tahu bahwa persoalan itu adalah persoalan rumah tangga. Ibu dari anak itu tidak rela anaknya dibawa bekas suaminya.

Cerita di atas memberi pelajaran berharga tentang pentingnya literasi digital. Rendahnya kemampuan literasi digital di perbatasan dipaparkan oleh Dr. Nurbaya, S.Si. MP dalam seminar Literasi Digital di Kabupaten Nunukan.   Rendahnya SDM dan kerasnya tsunami informasi menciptakan pertarungan yang tidak seimbang. Untuk itu, msyarakat Nunukan harus memahami literasi digital.

Untuk memahami literasi digital, Martha Simanjuntak, SE MM, founder IWITA (Indonesian Women Information Awareness), menyederhanakan dengan istilah “Baper” . Baper adalah singkatan dari baca, pelajari, renungkan. Artinya, saat anda menerima informasi dari internet, sebaiknya “baper”.

Jangan terlalu cepat menyebarkan informasi jika belum menganalisa isinya.Kecenderungan menyebarkan informasi yang belum dicek kebenarannya bisa merugikan banyak orang, termasuk diri sendiri.

Trend konten negatif di internet menuntut kita untuk bijak dalam menggunakannya. Dalam ber-internet, apalagi media sosial, sebaiknya seseorang memiliki self branding bagi pengguna media sosial. Hal ini bisa diartikan sebagai jati diri seseorang di dunia maya.

Tentu saja yang ditampilkan adalah citra yang positif. Martha mencontohkan dirinya yang selalu memakai batik Ulos khas Batak atau menampilkan konten-konten budaya dan kuliner dalam bersosial media. Branding diri ini penting agar kita mudah dikenal pengguna lain.

Setelah berhasil melakukan self-branding, media sosial bisa digunakan untuk kegiatan bisnis. Kegiatan bisnis melalui media sosial berpotensi menghasilkan profit yang besar. Pada skala yang lebih luas, internet adalah tempat bisnis yang lebih enteng. Denden, Owner Rumah Kopi temanggung memberikan tips berbisnis di Internet. Ia memperkenalkan google my Business.

Aplikasi yang dikembangkan google untuk membantu mempromosikan usaha online. Tips menganalisa pasar dan yang paling utama adalah komunikasi dengan pelanggan. Seorang pebisnis online tidak boleh mengabaikan pelanggannya ketika bertanya atau berinteraksi.

Pada dasarnya, internet dapat dijadikan media pendidikan ataupun hiburan yang positif. Intinya, kita harus pandai-pandai menggunakannya. Kesadaran pengguna semakin penting mengingat konten-konten negatif yang di blokir masih bisa diakses dengan cara tertentu. Bijaklah dalam menggunakan internet, untuk masa depan indonesia yang lebih baik.

November 04, 2018

Tentang Belajar dan Pembatasan Usia CPNS

Seorang teman tiba-tiba mengeluh, "bro, saya tidak lulus". Saya sempat berpikir satu detik sampai ingat bahwa temanku ini ikut ujian CPNS. Curhatnya pun berlanjut dengan kalimat-kalimat mendayu-dayu. Kalimat-kalimat yang secara otomatis saya jawab "sabar".

Tak henti temanku ini berkeluh-kesah. Hampir semua keluh kesah itu saya dengar, sebagian tak saya dengar karena otak saya sedang mencari kalimat yang tepat sebagai tanggapan. Kususun sudah kalimat menenangkan, semacam motivasi dan empati ala Mario Teguh di TV dulu, toh yang saya ucapkan tetap kata "sabar".

Bantahan saya baru keluar setelah dia mengucap "sia-sia saya belajar". Entah kenapa tiba-tiba kejutan listrik statis menyala-nyala di otak saya. Mungkin karena latar belakang saya seorang guru, maka kata "belajar" menjadi kunci rangkaian kata-kata.

Saya pernah mendengar bahwa belajar tidak pernah sia-sia. Belajar tidak begitu linear dengan kelulusan seseorang dalam tes. Keberhasilan belajar bukan diukur dengan instrumen tes saja. Keberhasilan belajar bisa dilihat dari perubahan tingkah laku atau cara berpikir.

Akan tetapi menurut pandangan Konfusius, belajar bisa sia-sia jika kita tidak berpikir. Seseorang yang menganggap dirinya belajar dengan mengerjakan kemungkinan soal, bisa jadi minim berpikir. Jika itu terjadi, maka belajar itu menjadi sia-sia.

Jika kita belajar sambil berpikir, maka belajar IPS bagi seorang guru IPA pun ada gunanya. Bukan pada kebutuhan praktisnya untuk mengajar, tetapi menjadi sintesa dalam menulis bebas seperti yang saya lakukan sekarang.

Di perguruan tinggi, saat masih kuliah di jurusan fisika, saya pernah merasa bahwa belajar Biologi Umum, Kimia dasar dan kalkulus berjilid-jilid itu tidak penting. Beberapa tahun kemudian, di SMP mata pelajaran IPA terpadu lahir. Saya tidak kaku lagi menggunakan miksroskop dan tabung reaksi. Matematika dalam kalkulus menjadi penting, karena ternyata salah satu kesulitan belajar anak-anak pada pelajaran IPA adalah matematikanya.

Bukan hanya pada bidang keilmuan lain, saya juga pernah merasa sia-sia belajar buku terjemahan Hallyday & Resnick. Buku dua edisi yang kalau ditumpuk setinggi kucing itu, rupanya tetap berguna walaupun hanya mengajar fisika di SMP.

Saya ingin kembali mempertanyakan gaya belajar teman ini. Apakah dia hanya mengerjakan soal latihan lalu menghapal jawaban?. Pertanyaan itu tak jadi saya utarakan. Ia lebih dulu berkata "sia-sia saya mengabdi". Saya mengerti kekecewaannya, bahwa usianya saat ini sudah 35 tahun. Jika aturan tak berubah, tahun ini adalah tahun terakhir kesempatan ikut seleksi CPNS. Tentu tak etis menghakimi cara belajarnya.

Ia mengabdi sejak lulus kuliah. Bahkan saya masih kuliah, teman saya ini sudah jadi honorer. saya sangat memahami, bahwa usahanya untuk belajar adalah bentuk kepatuhannya pada aturan passing grade. Ia dipaksa bersaing dengan lulusan baru, yang kemampuan kognitifnya masih hangat-hangatnya.

Pemerintah mencari orang-orang kompeten. Honorer yang sudah tua diperlakukan seperti tiang lapuk, melupakan bahwa tiang itu pernah menyangga sisi rumahnya yang kosong tanpa tiang. Bertahun-tahun lalu, beberapa kantor masih kekurangan PNS, termasuk guru. Maka diisilah kekurangan ini dengan merekrut honorer. Pekerja yang tak dijamin masa tua dan kesehatannya. Kehadiran mereka membuat roda pemerintahan tetap berjalan.

Terbitnya Undang-Undang ASN semakin mempertegas kegamangan masa tua para honorer. Sekalipun dijanjikan perjanjian kerja, toh tetap harus dites lagi. Sekali lagi, pengabdian mereka tak diperhitungkan di usia yang semakin menua. Kita semua sepakat bahwa negara butuh ASN berkualitas, Akan tetapi kualitas mereka di masa muda mungkin saja telah dikuras habis oleh negara itu sendiri.