January 31, 2019

STOP GURU HONORER, OUTSOURCHING JALAN TERUS

Di sebuah sekolah nan jauh dari "sentral peristiwa", kebutuhan guru tinggi, sementara ketersediaan tenaga guru dibawah level harapan. Ketika tiba-tiba penerimaan honorer di sekolah itu dihentikan, maka kekurangan guru menjelma menjadi kehilangan guru.
Penerimaan CPNS sebagai harapan nyata, masih tak merata penempatannya. Masih ada lubang-lubang kosong yang tak tertutupi. Merekrut tenaga honorer sudah diharamkan, hingga guru yang ada harus bekerja ekstra, yang entah bagaimana hasilnya.
Penghentian rekruitmen guru honorer harus kita akui sebagai kontrol untuk menjaring Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Terlihat sangat baik dan solutif. Akan tetapi, di sekolah nan jauh, yang kuceritakan di awal paragraf, terlahir "monster". Monster yang memberi kegamangan pada para pengisi kekosongan di sekolah itu.
Sekolah yang kekurangan guru itu, terpaksa merekrut outsourching (pekerja lepas). Inilah monsternya. Mereka direkrut tanpa perjanjian atau kejelasan waktu, apalagi kejelasan masa depan. Guru honorer hanya berstatus sebagai guru pengganti. Tak seperti pemain pengganti pada sepak bola, guru pengganti tak digaji jika tak bermain. Sedih sekali, karena menjadi guru honorer atau pengganti tak akan pernah memberi finansial yang baik. Sejak dulu.

Baca Juga


Guru pengganti (pekerja lepas) akan semakin jauh dari kesejahteraan. Polemik kesejahteraan yang tak pernah selesai dan akan semakin tak selesai dengan hadirnya sistem outsourching. Keadilan sosial macam apa ini?.
Dunia ini terlalu "kapital" untuk mempertahankan kata "pengabdian". Sepatu mengkilap dari para "fresh graduate" semakin lama semakin kusam, lalu robek, alasnya pupus hingga terlepas. "pengabdian" tertinggal di persimpangan waktu, atau mungkin berpi dah ke dimensi lain di luar ruang dan waktu.
Seharusnya negeri ini tak kekurangan guru. Melihat peningkatan jumlah perguruan tinggi kependidikan sejak 2005 lalu, calon guru melimpah tapi tetap kekurangan guru. Ada apa?. Sekali lagi kalimat ini harus diulangi, "dunia terlalu kapital untuk kata pengabdian".
Memang masih ada yang bertahan dengan pengabdian, mungkin itulah penyangga terakhir pendidikan kita masih berdiri sampai hari ini. Semoga penyangga ini tak cepat rapuh atau selalu ada penggantinya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon