April 28, 2018

AYO GANTI TAHI LALAT DENGAN ISTILAH LAIN

Tags
Sumber gambar : sindonews.com
Sebenarnya ini adalah bentuk protes saya terhadap metafora bintik hitam di tubuh manusia.
Bukan hanya karena saya memilikinya, tapi dalam komunikasi, penggunaan kata tahi atau kotoran terlalu vulgar untuk peradaban maju. 
Selain itu, lalat memang tidak pernah singgah di tubuh orang lalu membuang kotoran. (Camkan itu).
Kawan-kawan sekalian yang punya tahi lalat, saya ingatkan bahwa sejenis kita pernah berjaya di tahun 1950-an sebagai lambang sexualitas. Lihat saja artis Marlyn Monroe dan tanda lahirnya yang sengaja di pamer.
Hingga tahun 1990-an, Rano Karno cukup mewakili kaum kita sebagai orang populer dan seksi.
Tapi semua itu dulu, orang sekarang cenderung dikendalikan oleh trend dunia, ketimbang menerima kenyataan memiliki tahi lalat. Ada yang sampai operasi hanya karena alasan penampilan, bukan karena Tahi Lalatnya berbahaya untuk kesehatan.
Semua itu adalah perspektif materialisme kawan. Mereka tidak paham bahwa faktor non materi bisa membuat seseorang menjadi anggun, gagah dan perkasa. Misalnya spiritualitas, intelegensi, kasih sayang dan lain-lain.
Sebelum saya semakin ngawur dengan hal rumit seperti diatas, mari kita kembali ke persoalan metafora tahi lalat.
Kalau kita mengaku sebagai manusia yang beradab, sebaiknya mengganti istilah tahi lalat menjadi istilah yang lebih sopan.
Saya punya empat usulan nama untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, mungkin bisa dipertimbangkan
Pertama, agar sedikit canggih kita sebut "blank spot". Ada nuansa misteri didalamnya sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri pemiliknya. Apalagi ini agak keinggris-ingrisan, itukan keren!!!
Kedua, Misalnya kita ganti menjadi "biji kurma". Tentu lebih religius dan menenangkan. Tapi ini mungkin tidak universal, apalagi banyak orang parno saat ini dengan istilah berbau agama.
Ketiga, supaya agak sangar adalah "telur naga". Dijamin tidak sembarangan orang berani macam-macam. Minimal preman yang bertato naga tidak mau menggangu karena kita punya telurnya.
Keempat yang tak kalah sangar yaitu "bintik macan". Ini sangat cocok untuk menakut-nakuti lawan yang beda pendapat. Bukankah sekarang zamannya pemaksaan pendapat?

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon